Cerita lengkapnya
Di desa-desa Sunda, angklung dimainkan saat upacara tanam dan panen padi untuk menghormati Dewi Sri. Angklung tradisional bernada pentatonis. Tahun 1938, seorang guru di Kuningan bernama Daeng Soetigna menyetelnya ke tangga nada diatonis do-re-mi, supaya anak-anak sekolah bisa memainkan lagu apa saja.
Muridnya, Udjo Ngalagena, mendirikan Saung Angklung Udjo di Bandung tahun 1966, tempat pengunjung bisa langsung main bareng hanya dalam beberapa menit. UNESCO menetapkan angklung sebagai warisan budaya takbenda pada 16 November 2010, dan tanggal itu kini diperingati sebagai Hari Angklung.