Cerita lengkapnya
Tahun 1999, Shigetaka Kurita, yang saat itu berusia pertengahan 20-an, sedang mengerjakan i-mode, layanan internet ponsel milik NTT Docomo di Jepang. Pesannya pendek dan layarnya mungil, jadi ia merancang 176 gambar kecil di kisi 12×12 piksel, terinspirasi manga, simbol ramalan cuaca, dan rambu jalan: matahari, payung, sepatu, wajah, dan hati.
Perusahaan ponsel Jepang lain lalu membuat versi masing-masing, dan tahun 2010 emoji masuk ke Unicode, standar yang membuat semua komputer bisa menampilkan karakter yang sama. Dari situlah emoji menyebar ke seluruh dunia. Tahun 2016, Museum of Modern Art di New York memasukkan 176 emoji asli Kurita ke koleksinya. Sekarang, hati merah termasuk emoji yang paling sering dipakai di dunia.