Cerita lengkapnya
Sebelum merdeka, permainan yang dalam bahasa Belanda disebut 'de klimmast' (memanjat tiang) ini biasa digelar di pesta-pesta kolonial seperti ulang tahun Ratu Belanda. Yang memanjat warga pribumi, berebut hadiah seperti beras, gula, dan pakaian, sementara para tamu menonton. Lomba tiang licin juga sudah dikenal di komunitas Tionghoa di Nusantara, dan karena sejarah kolonialnya, sebagian orang sampai sekarang masih memperdebatkannya.
Setelah 1945, lomba ini diambil alih jadi tradisi kemerdekaan. Setiap 17 Agustus, kampung-kampung di seluruh Indonesia mendirikan batang pinang, melumurinya dengan oli, dan menggantung hadiah di puncaknya. Tak ada yang bisa sampai atas sendirian: tim harus saling menopang di bahu, merosot, mengatur ulang, lalu mencoba lagi. Karena itu banyak yang melihatnya sebagai pelajaran gotong royong.