1. Beranda
  2. Cerita
  3. the pole
the pole

Panjat pinang: kenapa tak ada yang bisa sampai puncak sendirian

Lomba 17-an favorit kita ternyata berawal dari zaman kolonial, dan belum pernah ada yang menang sendirian.

Tonton dalam Bahasa Inggris →

Bagikan cerita ini WhatsApp X Facebook LinkedIn

Cerita lengkapnya

Sebelum merdeka, permainan yang dalam bahasa Belanda disebut 'de klimmast' (memanjat tiang) ini biasa digelar di pesta-pesta kolonial seperti ulang tahun Ratu Belanda. Yang memanjat warga pribumi, berebut hadiah seperti beras, gula, dan pakaian, sementara para tamu menonton. Lomba tiang licin juga sudah dikenal di komunitas Tionghoa di Nusantara, dan karena sejarah kolonialnya, sebagian orang sampai sekarang masih memperdebatkannya.

Setelah 1945, lomba ini diambil alih jadi tradisi kemerdekaan. Setiap 17 Agustus, kampung-kampung di seluruh Indonesia mendirikan batang pinang, melumurinya dengan oli, dan menggantung hadiah di puncaknya. Tak ada yang bisa sampai atas sendirian: tim harus saling menopang di bahu, merosot, mengatur ulang, lalu mencoba lagi. Karena itu banyak yang melihatnya sebagai pelajaran gotong royong.

Yang diucapkan narator

Ketuk satu baris untuk langsung ke sana.

Sumber

Setiap angka dan tanggal di layar kami periksa sebelum videonya dibuat.

Dibuat oleh teodolist studio

Mau seri video seperti ini?

Butuh video seperti ini untuk brand atau sekolah Anda?

Kami membuat ke-240 video ini, dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing dari satu naskah. Kami membuat seri cerita untuk brand, sekolah, dan kanal.