Cerita lengkapnya
Tinggi ondel-ondel sekitar dua setengah meter: rangka anyaman bambu, topeng kayu, mahkota kembang kelapa dari kertas, dan satu orang di dalamnya yang memikul semuanya di pundak. Mereka selalu berpasangan. Yang laki-laki bermuka merah, lambang keberanian, dan yang perempuan bermuka putih, lambang kesucian. Bagi orang Betawi, ondel-ondel awalnya adalah penolak bala, baru kemudian jadi bintang di hajatan, sunatan, dan pesta rakyat.
Sekarang banyak ondel-ondel 'ngamen' keliling kampung dengan gerobak speaker, dan yang memikulnya sering kali masih remaja. DPRD DKI sempat mengusulkan larangan ngamen ondel-ondel lewat Perda Pelestarian Kebudayaan Betawi. Alasannya, ikon budaya jangan sampai direndahkan, dan senimannya perlu diberi panggung yang layak. Di sisi lain, buat banyak keluarga, jalanan adalah satu-satunya panggung yang tersisa.