Cerita lengkapnya
Pinisi dibangun terutama di Tana Beru dan desa-desa sekitarnya di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Keahliannya berakar dari para tukang perahu Konjo di Ara, sementara pelaut Bugis dan Makassar membawa kapal-kapal ini berlayar ke seluruh Nusantara. Sang panrita lopi (ahli perahu) menyimpan seluruh rancangan di kepalanya. Uniknya, papan lambung dipasang lebih dulu, baru rangka di dalamnya menyusul.
Setiap tahap, dari memasang lunas sampai peluncuran, diiringi doa dan upacara, dan saat peluncuran warga ramai-ramai mendorong kapal ke laut. Nama pinisi merujuk pada tali-temali layarnya: dua tiang dengan tujuh atau delapan layar. Desember 2017, UNESCO menetapkan seni pembuatan perahu pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda. Kini banyak pinisi dibangun sebagai kapal wisata, dengan cara yang tetap sama.